Yulita Rosiana

to rave about

Pesona Pemandangan Sureal Gunung Papandayan

Para pecinta kuliner mengenalnya sebagai Kota Dodol, kota penghasil penganan tradisional manis nan legit. Sedangkan, pecinta hewan mengenalnya sebagai Kota Domba, kota penghasil varietas domba yang kuat dan gagah. Lain halnya dengan pecinta kuliner dan pecinta hewan, para penjelajah alam justru lebih mengenalnya sebagai Swiss Van Java. Ialah kota Garut yang terkenal dengan pesona alamnya yang mirip dengan negara Swiss. Gunung Papandayan, salah satunya. Gunung yang disebut-sebut sebagai salah satu Gunung tercantik di Indonesia ini merupakan medan favorit para pendaki lokal dan mancanegara.

Kemegahan Gunung Papandayan sudah dapat dilihat dari area parkir

Dengan ketinggian 2665 meter, Gunung Papandayan menjadi tempat yang cocok bagi para pendaki pemula. Pesona alamnya yang cantik sudah tampak jelas dari area parkir. Pagi itu, langit tampak cerah dan udara tipis yang melayang bebas membuat Gunung Papandayan semakin terlihat bak lukisan nyata. Tak heran, para pendaki kian girang untuk segera menapakinya.

Sinar terik matahari pagi itu seakan memberikan sinyal baik bagi ribuan pendaki yang hendak melakukan pendakian. Setelah melakukan registrasi di pos pendaftaran dan dilanjutkan dengan berdoa bersama-sama, kami yang terdiri dari enam belas orang dalam satu grup lekas melangkahkan kaki, memulai petualangan kami mendaki Gunung Papandayan.

Menelusuri jalanan datar berbatu yang dikelilingi oleh tanaman suwagi

Jalur tempuh pendakian dimulai dengan menyusuri jalanan datar berbatu yang diiringi dengan barisan tanaman suwagi. Tanaman suwagi sendiri adalah sejenis tanaman paku yang tumbuh subur hampir di seluruh area Gunung Papandayan. Pucuk daunnya yang berwarna merah marun kecoklatan terlihat seolah seperti sepucuk bunga dari kejauhan. Itulah ciri khas yang dimiliki Gunung Papandayan.

Sekitar lima belas menit kemudian, decak kagum menyelimuti perasaan kami seketika melihat barisan gunung hijau. Jalur berbatu yang mulai menanjak menjadi tak masalah berkat pemandangan yang elok di seberang sana. Apalagi, ditambah dengan suhu dingin dan udara yang super sejuk. Tak jauh di depan mata terlihat asap putih yang terus menjulang ke langit. Rangkaian asap tersebut tak lain berasal dari kawah belerang yang masih aktif. Bagi para pecinta fotografi, perjalanan membidik lensa kini sudah bisa dimulai.

Barisan gunung berselimutkan permadani hijau

Luapan asap dari beberapa kawah belerang yang masih aktif

Menapaki jalur menanjak di samping kerumunan kawah belerang dapat kami lakukan dengan baik. Hal ini karena kami sama sekali tidak mencium aroma belerang yang pekat tidak seperti lazimnya di gunung lain. Kami bahkan sempat berfoto ria tepat di samping lubang kecil yang mengeluarkan asap dan uap panas.

Walaupun lubang kecil tersebut mengeluarkan asap dan uap gas, serta suara yang berisik, kami tak merasa khawatir mengambil foto di sampingnya

Estimasi waktu mendaki dari area parkir ke Pondok Saladah sebetulnya hanya memakan waktu dua sampai tiga jam. Namun, kami menghabiskan waktu empat jam karena saking asyiknya membidik setiap sudut area guna mengabadikan momen-momen seru bersama.

Di tengah perjalanan, para pendaki diwajibkan untuk mendaftarkan nomor telepon salah satu perwakilan dari rombongan di Pos 2. Nah, bagi para pendaki yang sudah mulai terasa lapar, mereka dapat membeli makanan dan minuman di warung kecil yang terletak bersebelahan dengan Pos 2.

Kami hanya punya waktu sedikit untuk mengisi perut dan beristirahat sejenak. Maklum, tadi kami sudah menghabiskan waktu terlalu lama di perjalanan sebelumnya. Setelah semua anggota di grup selesai makan, kami pun bergegas kembali melanjutkan pendakian. Kini, kami akan menuju Pondok Saladah, tempat para pendaki mendirikan tenda. Jalanan halus nan sempit menanjak pun mewarnai pendakian kami berikutnya. Untung saja, cuaca sedang bersahabat kala itu. Jika tidak, jalanan bisa terasa sangat licin dan lembek.

Selama perjalanan, kami kerap berhenti sejenak hanya untuk menikmati permadani hijau di seberang jalan. Ada pemadangan unik yang menarik perhatian kami. Tampak ada area gersang, tempat berdirinya batang-batang pohon berwarna hitam seolah seperti habis terbakar. Ialah hutan mati yang berada di atas tanah dengan sarat akan kandungan belerangnya.

Pemandangan hutan mati dalam perjalanan menuju Pondok Saladah

Sekitar satu jam kemudian, kami pun akhirnya sampai di Pondok Saladah. Kawasan Pondok Saladah sendiri terbilang luas sehingga mampu menampung puluhan tenda. Fasilitas yang tersedia pun sangat lengkap. Tiga kamar mandi dan tempat cuci piring yang sekaligus dapat digunakan untuk berwudhu merupakan fasilitas sempurna bagi anak rumahan yang pertama kali mendaki gunung. “Hahaha.” Jadi, bagi kalian yang termasuk golongan clean freak, tak perlu khawatir untuk mendaki Gunung Papandayan. Kalian masih bisa mandi dua kali sehari.

Selesai mendirikan tenda, kami saling membagi tugas. Ada yang memasak dan ada pula yang memotong kayu untuk meyalakan api unggun. Jika pendaki sebelah memasak makanan instan yang cepat saji, kami memilih untuk memasak makanan yang tidak lazim bagi para pendaki gunung. Kali ini, kami mencoba memasak nasi putih lengkap dengan sayur sop dan tempe goreng. Bagi kalian yang ingin mencoba sensasi makan makanan berat ketika mendaki gunung, alangkah baiknya mendaki dengan rombongan yang banyak. Karena tentunya kalian akan membawa banyak peralatan.

Suhu di malam hari jelas sangat dingin, berkisar antara 10-15 derajat Celcius. Bahkan, suhu ini bisa lebih rendah di kala musim hujan. Jadi, bawalah perlengkapan yang sesuai demi keamanan dan kenyamanan saat menginap di Gunung Papandayan.

Saking dinginnya, kami langsung menggigil seketika api unggun dimatikan. Beberapa pendaki malah tidak bisa tertidur pulas dan memilih untuk beristirahat di dekat api unggun hingga keesokan paginya. Malam itu, menunggu Sang Mentari terbit seperti menunggu selama seabad.

Rasa sebal akibat waktu yang seolah berjalan lambat akhirnya memudar juga. Saya dan rombongan kini dapat merasakan sedikit kehangatan dari Sang Mentari. Tampak matahari sudah mulai meninggi, kini waktunya kami bergegas untuk kembali mendaki.

Kali ini kami akan menuju Tegal Alun. Tegal Alun sendiri adalah nama area yang berbentuk lapangan luas berhiaskan bunga Edelweiss. Perjalanan menuju padang edelweiss cukup singkat. Normalnya para pendaki hanya membutuhkan waktu satu jam saja. Jalur yang ditempuh menuju Tegal Alun sendiri diwarnai dengan menyusuri jalanan kecil menanjak plus tebing terjal berbatu. Dari tebing itulah, para pendaki dapat dengan leluasa menikmati pemandangan Pondok Saladah dan hutan mati dari kejauhan.

Pemandangan hamparan hutan tanaman suwagi di tengah perjalanan menuju padang edelweiss

Pondok Saladah dari atas

Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, akhirnya kami tiba di hamparan bunga edelweiss. Kami pun langsung berlari penuh girang selayaknya anak kecil, mengelilingi taman bunga abadi. Daun bunga edelweiss yang berwarna hijau lumut dan berselimutkan rambut tipis putih keperakan membuat tanaman edelweiss terkesan begitu sureal. Saking takjubnya, kami pun betah berlama-lama di sini. Pantas saja, banyak orang mengatakan bahwa Gunung Papandayan merupakan salah satu Gunung tercantik di Indonesia. Selain keindahan alam dan lingkungannya yang asri, Gunung Papandayan juga masih sangat bersih. Sepanjang perjalanan, kami tidak menemukan sedikitpun coretan nakal di bebatuan besar. Semoga keindahan dan kebersihannya terus terjaga sehingga dapat dinikmati oleh para generasi berikutnya.

Di tengah keindahan sureal bunga Edelweiss

(June 6th – 8th, 2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: