Yulita Rosiana

to rave about

Memaknai Pesona Alam Gunung Pulosari

“Owh, ternyata ramai juga, ya!” seru Ainin, salah satu teman, saat melihat puluhan sepeda motor berjejer rapi di lapangan parkir tempat wisata Gunung Pulosari. Tak hanya mereka saja, saya, Ainin dan tujuh teman lainnya juga hendak mendaki Gunung Pulosari malam itu.

Gunung Pulosari sendiri merupakan salah satu gunung berapi di kabupaten Pandeglang, kabupaten bagian utara provinsi Banten. Gunung Pulosari merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki pemula yang ingin memulai perjalanan pendakiannya.

Hujan yang mengguyur kota Pandeglang seharian pada hari itu tidak memudarkan niat kami untuk mendaki gunung dengan ketinggian 1.346 mdpl itu. Sesampainya di parkiran, kami langsung membayar retribusi sebesar Rp 5.000,00 per orang terlebih dulu. Lalu, memulai pendakian pada pukul 20.30 WIB.

Perjalanan awal menuju Pos 1 dimulai dengan jalur menanjak berlapiskan bata. Sepertinya pemasangan bata diawal pendakian sengaja dibuat untuk memudahkan para pendaki pemula. Namun, hal itu sama sekali tidak membantu saya, Ainin, dan Cindy. Entah karena ini kali pertama kami mendaki atau jarang berolahraga, kedua kaki kami sudah terasa pegal-pegal diawal pendakian. Parahnya lagi, tas punggung yang kami bawa tidak sesuai dengan standar para pendaki. Setengah jam berikutnya, kami bertiga menyerah. Akhirnya, teman laki-laki membantu membawakan tas kami. “Hihihi.” Indeed, strong man is a perfect travel companion for a complete novice girl hiker.

Jalur yang kami tempuh cukup sempit, antara 30-60 cm. Jika ada grup di belakang yang ingin menyalip, kami harus berhenti dan menepi agar mereka dapat melewati kami. Karena pendakian dilakukan pada malam hari, sangat penting bagi setiap individu membawa lampu senter walaupun jarak antar anggota diharuskan selalu berdekatan. Apalagi, dengan banyaknya jalur terjal berbatu dan jalanan becek karena hujan seharian tadi.

Salah satu jalur terjal berbatu yang harus kami lewati

Break, semuanya break dulu,” perintah Jodhi, salah satu teman rombongan. Kami mendadak berhenti, lalu beristirahat sejenak. “Wah, seger banget ya,” ucap kami serentak. Semilir angin malam yang menabrak tubuh terasa begitu menyejukkan. Kecepatannya menimbulkan suara gemerisik dari daun-daun yang bergesekan. Leganya dapat menghirup udara bersih bebas polusi.

Puas merasakan sensasi sejuknya angin, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, rombongan kami tiba di Pos 1. Di sini perwakilan dari masing-masing grup pendaki wajib mengisi data-data penting, seperti nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Bagi yang terasa lapar dan haus, para pendaki dapat membeli makanan dan minuman di warung tepat di sebelah Pos 1.

Beristirahat sejenak di Pos 1

“Cewek cowok tendanya terpisah ya.” perintah salah satu Bapak penjaga Pos 1.

“Ya iyalah, Pak. Masak mau campur sama laki-laki,” balasku dengan perasaan aneh kepada Bapak tersebut.

Setelah aku menceritakannya kepada Jodhi, peringatan tersebut ternyata selalu dilontarkan kepada para pendaki demi keselamatan mereka. Maklum, bagi masyarakat Banten, Gunung Pulosari merupakan gunung yang angker dan keramat.

Suara kecipak air terjun Curug Putri terdengar bergemuruh di dekat Pos 1, seakan menjadi pengantar perjalanan kami selanjutnya. Batu raksasa nan licin menjadi tantangan kami di menit pertama pendakian selanjutnya. Tak jauh berbeda dengan perjalanan sebelumnya, perjalanan kami menuju Kawah Ratu juga diwarnai dengan jalur datar dan menanjak yang saling berselingan. Kawah Ratu sendiri adalah area kawah-kawah belerang yang biasa digunakan sebagai tempat perkemahan para pendaki.

Setelah sekitar 2,5 jam otot betis tersiksa, akhirnya kami sampai di Kawah Ratu. Sebagian besar lahannya berkerikil. Tapi, ada juga lahan yang bertekstur tanah halus. Suasananya agak berkabut akibat semburan asap yang berasal dari kawah belerang.

Saking lelahnya, kami langsung mendirikan tenda dan beristirahat. Karena keterbatasan matras yang dibawa, akibatnya saya, Ainin, Cindy, dan Kun harus tidur ala kadarnya. Alhasil, semalaman kami sering terbangun hanya untuk duduk sebentar karena punggung yang terasa sakit akibat kerikil-kerikil kecil yang berada di tempat tenda kami berdiri. Malam itu, menunggu pagi serasa seperti menunggu selama ratusan tahun.

Tidur tak beralaskan matras di tenda yang berdiri di atas kerikil-kerikil kecil nan tajam membuat tidur kami tidak berasa nyaman

Tidur tak beralaskan matras di tenda yang berdiri di atas kerikil-kerikil kecil nan tajam membuat tidur kami tidak berasa nyaman

Pesona Alam Lazim, tapi Tetap Mengagumkan

Pemandangan gelap gulita semalam kini bertransformasi menjadi pemandangan yang lebih terang menawan. Lapangan berbatu dimana kaki berpijak ternetralkan oleh dinding tinggi berhiaskan vegetasi tropis nan hijau. Menatapnya, serasa menonton panggung opera yang megah.

Para pendaki mulai berkeliaran mengelilingi semua sudut lapangan. Sebagian justru ada yang sudah mendaki ke puncak Pulosari. Berniat melihat Sang Fajar bangun dari tidurnya. Sedang rombongan kami lebih memilih untuk bersantai di sekitar Kawah Ratu.

Beberapa meter dari tempat tenda kami berdiri, ada beberapa pendaki yang berusaha memasak telur dengan cara khas anak gunung. Telur diikat dengan tali panjang, lalu dicelupkan ke dalam genangan air kawah belerang. Walaupun itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh para pendaki, namun hal tersebut merupakan aksi yang luar biasa bagi saya, Ainin, dan Cindy. Maklum, ini kali pertama kami mendaki gunung.

Merasakan sensasi terpaan gempulan asap kawah belerang

Kami mulai beranjak dari tenda. Berkeliling di sekitaran kawah dan mengabadikan momen-momen kebersamaan. Puas memotret semua sudut, kini kami memilih untuk duduk-duduk manis membentuk lingkaran tak jauh dari kawah belerang. Lalu, bersenda gurau seraya menikmati sejuknya udara pagi. Sepanjang pendakian hingga di Kawah Ratu terlihat jelas bahwa alam Gunung Pulosari memiliki karakteristik vegetasi di daerah tropis. Lahannya dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi berdaun lebat yang bercampur apik dengan tanaman paku-pakuan.

Serasa berdiri di gedung opera alam raksasa

Bercengkerama seraya menikmati keindahan alam hijau nan permai

Sebuah sudut lereng kecil yang dipenuhi oleh kerumunan tanaman paku-pakuan

Gunung Pulosari itu sederhana, tapi tetap mengagumkan. Walaupun karakteristik alamnya selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak pernah terbesit dalam benak kami rasa bosan untuk melihatnya. Apalagi, bagi kami yang tinggal di kota industri. Rentetan beton, hempasan debu jalanan, serta suara bising klakson truk-truk besar sudah menjadi sahabat kami tiap harinya.

Berada di tengah-tengah drama alam yang sejuk seperti ini, kami hanya berucap syukur dalam hati. Berterima kasih kepada Sang Pencipta atas kesempatan menikmati ekosistem hijau di Gunung Pulosari. Ekosistem yang lazim, tapi tetap megah dan mengagumkan. Sederhana, tapi tetap menyejukkan mata dan menenangkan jiwa.

Jika tidak ingin memasak sendiri, para pendaki bisa membeli makanan dan minuman di warung yang berlokasi di dekat area perkemahan

Menyantap makanan pagi di tengah pemandangan yang menyejukkan hati

Kembali melewati jalanan terjal berbatu dalam perjalanan pulang

Sebuah sudut Pulosari dengan aura penuh misteri

Di tengah perjalanan pulang, para pendaki selalu menyempatkan diri mengisi persediaan air mereka dari air terjun Curug Putri. Airnya yang masih alami dan higienis dapat langsung kita minum. Rasanya persis seperti air minum kemasan, hanya saja jauh lebih segar.

(May 17th-18th, 2014)

Advertisements

One comment on “Memaknai Pesona Alam Gunung Pulosari

  1. mirza
    September 22, 2015

    nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: