Yulita Rosiana

to rave about

Menyelami Keindahan Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian (Part 2)

Singgah di pulau terpencil merupakan kemewahan tersendiri bagi para petualang sejati. Karenanya, kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Hari ini adalah hari kedua kami menginap di Pulau Pahawang Besar. Sehabis shalat Subuh, kami semua beranjak dari tempat penginapan. Sebagian pergi ke dermaga untuk menanti detik-detik pertama Sang Fajar bangun dari tidurnya. Sedang lainnya pergi ke arah berlawanan menyusuri desa, iseng-iseng mencari pantai kecil dekat rumah inap.

Pagi itu, cuaca kurang bersahabat. Di sebelah kanan dermaga tampak suasana mendung sedang memayungi sebagian perairan Pulau Pahawang. Awan kelam bergantung kokoh seakan ingin merajai langit. Semoga saja agenda snorkeling kami hari kedua ini tidak terganggu oleh hujan yang deras.

Kuning dan jingga bercampur seperti kobaran api di atas kaki langit. Pagi itu, Sang Fajar seolah sedang mengintip di antara perbukitan dan selimut awan tebal

Ada pantai kecil di balik semak yang terletak tidak jauh dari rumah penginapan kami

Pemandangan sureal bunga liar yang bertaburkan sinar matahari

Suasana pagi yang hangat terasa begitu menentramkan jiwa. Apalagi, ditemani oleh hewan yang lucu, seperti anjing. Di Pulau Pahawang Besar ini, kalian akan menemui banyak anjing berseliweran dimana-mana. Tidak perlu takut, mereka berbeda dengan anjing-anjing pada umumnya. Mereka sangat anteng dan jarang sekali menggonggong. Seakan membuktikan keramahannya, anjing-anjing di Pahawang ini tidak sungkan untuk duduk-duduk santai dekat dengan kita.

Seekor anjing yang sedang asyik bersantai menikmati momen matahari terbit

Mata dan jiwa sudah terpuaskan oleh hangatnya mentari pagi, kini giliran perut yang ingin diperhatikan. Kami pun segera beranjak kembali ke rumah inap untuk sarapan. Kami sengaja memesan makanan sehari-hari langsung dari si empunya rumah agar jauh lebih praktis dan tidak membuang banyak waktu. Jika stok cemilan habis, kita dapat membelinya di warung terdekat. Ada jajanan kecil, gorengan, dan rujak di sana. Selain itu, pemilik warung juga menjual makanan berat untuk para kru kapal yang sedang beristirahat di Pahawang.

Selesai menyantap hidangan sarapan, kami pun segera berangkat ke dermaga. Lalu, naik kapal untuk meluncur ke sudut-sudut terindah pulau. “Yaayyy!”

“Aaaaa… Kereennn!” seru kami bersamaan seketika berada di salah satu spot dekat Pulau Pahawang Besar. Kami kegirangan seperti Kapten Hook yang baru saja menemukan harta karun.

Maldives ala Indonesia

Dasar lautnya yang beralaskan pasir putih mampu menonjolkan warna tosca air laut itu sendiri. Saking jernihnya, kami seakan berenang di kolam renang. Atau lebih tepatnya seakan berada di Pulau Maladewa? 🙂

Spot ala Maladewa ini terletak di antara Pulau Pahawang Kecil dan Pulau Pahawang Besar. Jika air sedang surut, kita dapat melihat jalanan kecil nan panjang yang seolah seperti menjembatani dua pulau. Tapi sayang, kami berkunjung ke spot tersebut di pagi hari, ketika air laut masih dalam keadaan pasang. Jadi, jalanan tersebut tertutupi oleh air laut.

Tanaman bakau yang terletak di tepi  pantai semakin mempercantik perairan pulau

Ada yang menarik dari Pulau Pahawang Kecil. Tidak seperti pulau tak berpenghuni lainnya, Pulau Pahawang Kecil ini memiliki beberapa pondok berarsitektur jadul. Berdasarkan penuturan warga, pulau Pahawang Kecil adalah milik Mr. Joe, warga negara Perancis yang terkenal sebagai seorang pengusaha minyak wangi. Jika sang pemilik berkunjung ke pulau, pondok-pondok tersebut tidak akan disewakan.

Walaupun kabarnya Mr. Joe sering memberikan bantuan kepada penduduk sekitar, salah satunya adalah beasiswa untuk anak-anak di Pahawang, namun kami tetap prihatin dengan adanya fakta kepemilikan tanah Indonesia oleh warga negara asing. Padahal, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (UUPA) dengan jelas tidak mengizinkan WNA memperoleh hak milik tanah di Indonesia. Sangat disayangkan memang. Semoga pemerintahan kita dapat sesegera mungkin bertindak tegas mengatasi permasalahan tersebut. Karena jika dibiarkan saja, maka lambat laun bangsa ini akan kehilangan kekayaannya.

Pondok milik Mr. Joe, pengusaha asal Perancis

Puas berenang dan berfoto ria, Pak Arsali kembali mengajak kami ke spot snorkeling dekat Pulau Pahawang Besar. Sebelumnya, beberapa teman rombongan kami sempat merasa pusing setelah melakukan snorkeling di hari pertama. Maklum, beberapa dari mereka belum terbiasa karena baru pertama kali melakukan snorkeling. Untung saja, semuanya sudah kembali sehat setelah beristirahat. Kami berdua belas langsung melompat ke laut.

Salah satu pulau mungil tak berpenghuni di sekitar Pulau Pahawang

Saking sepinya, serasa di pulau milik pribadi

Puas merasakan sensasi perairan Pahawang, kini tiba waktunya kami menuju Pulau Kelagian. Sama seperti Pulau Pahawang, Pulau Kelagian juga terpisah menjadi dua pulau, yaitu Pulau Kelagian Kecil dan Pulau Kelagian Besar. Kali ini, kami akan berkunjung ke Pulau Kelagian Kecil.

Spot snorkeling terakhir ini tidak terlalu luas. Arusnya juga kencang karena merupakan pertemuan antara arus Pulau Kelagian Besar dan Pulau Kelagian Kecil. Sebelum kami berkeliaran lebih jauh, para kru kapal menunjukkan kepada kami area palung laut yang harus dihindari. Palung laut sendiri adalah jurang yang berada di laut. Tekanan air di dalam palung laut lebih besar hingga seribu kali dari permukaan bergantung dari kedalamannya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mencoba berenang di luar batas area yang ditentukan. Jika tidak, kita bisa terkena arus deras yang dapat menenggelamkan diri kita.

Selain itu, para kru kapal juga memeriksa spot snorkeling untuk mencari tahu lokasi keberadaan bulu babi. Tidak lucu bukan jika liburan yang awalnya menyenangkan berubah menjadi penderitaan gara-gara tertusuk duri bulu babi. Badan nantinya akan terasa meriang disertai dengan muntah-muntah.

Jika sudah lelah berenang kesana kemari, kita bisa duduk-duduk santai sembari bercengkerama di pantai mungil Kelagian Kecil. Pantai ini menawarkan pemandangan air laut yang beroleskan deretan pulau-pulau kecil nan eksotis. Hamparan pasir putih yang bercampur apik dengan warna tosca air laut membuat siapa saja yang melihatnya berdecak kagum. Ditambah dengan suasananya yang sepi, tempat ini semakin cocok bagi kalian yang ingin menambah koleksi foto dengan pasangan terkasih. What? Wanna have a pre-wedding pics here? 😉

Hamparan pasir putih Pulau Kelagian yang bercampur dengan warna biru hijau laut

Mengabadikan jejak rekam di Kelagian

Tak terasa hari sudah siang, kini sudah waktunya kami harus kembali ke rumah inap dan berkemas-kemas. Setelah dua hari yang fantastis, dan sekarang kami harus kembali ke kehidupan masing-masing. Kembali ke rumah, lalu tidur di ruangan yang sama. Menghirup riuhnya jalanan kota, lalu fokus ke deadline pekerjaan berikutnya.

Sore itu, air laut yang tenang mengantarkan kepulangan kami menuju Dermaga Ketapang. Suasana senja yang redup semakin menenggelamkan kami ke dalam keheningan yang tak berkata. Melihat ke belakang sana, kami tahu ini adalah keputusan yang tepat untuk menghabiskan waktu liburan. Tempat baru selalu memberikan kenangan baru. Bertemu orang baru, lalu memiliki keluarga baru. Hati yang baru, lebih tepatnya. Ya, serpihan hati kami tertinggal di pulau seberang sana.

Foto bersama dengan keluarga Pak Arsali tepat di depan rumah mereka

(April, 17th – 19th, 2014)

Advertisements

3 comments on “Menyelami Keindahan Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian (Part 2)

  1. edoochsan
    August 18, 2015

    Omg keren bgt! Saya ke Bengkulu pasti lewat lampung kalo bawa mobil. Ini dilewati kah oleh saya? Saya lewat lintas barat lampung. Btw keren postingannya! 🙂

    • Yulita Rosiana
      August 18, 2015

      Yup, tempatnya memang bagus banget. Waduh, kalau itu saya kurang tw, haha… ini di Lampung Selatan.
      Coba cek di Google Map aja.
      Oya, tgl 11-13 Sept depan saya&teman2 ngadain open trip ke Pulau Pahawang&Kelagian lagi.
      I’ll send u the detail by email, perhaps u might be interested.

  2. Paket Wisata Dieng
    November 8, 2016

    wah sunrise nya indah banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: