Yulita Rosiana

to rave about

Wisata Air Kristal di Pulau Pahawang dan Pulau Maitem (Part 1)

Sebagian orang Jakarta mungkin masih memilih Bali sebagai destinasi wisata yang ideal untuk melepas penat dari rutinitas kerja. Namun, lain halnya dengan para petualang alam, khususnya para backpacker. Beberapa tahun terakhir, Lampung memang menjadi sorotan di kalangan para pecinta wisata bahari, khususnya mereka yang berdomisili di daerah Banten, Jakarta, dan sekitarnya.

Provinsi yang terletak paling selatan di Pulau Sumatera ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Bukan karena pantainya yang selalu ramai dikunjungi orang, melainkan diam-diam provinsi ini dikelilingi oleh pulau-pulau kecil eksotis tak berpenghuni. Eksplorasi pulau-pulau tersebut menjadi incaran para backpacker karena banyaknya pantai tersembunyi yang airnya masih jernih. Plus taburan spot snorkeling dengan kehidupan ekosistem yang masih terjaga membuat Lampung menjadi Balinya orang Banten, Jakarta dan sekitarnya.

Pulau yang akan kami jelajahi kali ini bernama Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian. Perjalanan yang kami tempuh terbilang tidak mudah. Setelah menempuh waktu tiga jam menyeberangi laut dari pelabuhan Merak, Cilegon menuju pelabuhan Bakaheuni, Lampung, kami harus duduk berdempet-dempetan bercampur dengan belasan ransel selama tiga jam untuk mencapai dermaga Ketapang yang akan menghubungi kami ke Pulau Pahawang. Dua belas anggota ditambah dua belas ransel dalam satu angkot yang sempat macet dan mesin hampir mati ketika sedang naik di jalan tanjakan! Tak hanya itu saja, separuh jalanan yang kami tempuh dalam kondisi rusak penuh lubang dan hanya dikelilingi oleh semak-semak tanpa ada fasilitas lampu jalan yang berdiri. Penderitaan terberat dirasakan oleh dua orang teman kami yang harus merasakan silaunya cahaya matahari karena duduk paling belakang. Hahaha… Perjalanan ala backpacker memang tidak selalu menyenangkan, tapi akan selalu ada cerita yang patut dikenang dan hal yang bisa dijadikan pembelajaran diri bagi masing-masing individu.

Duduk berdesak-desakan di dalam angkot selama tiga jam

Momen dimana angkot yang kami tumpangi tiba-tiba saja rewel

Momen dimana angkot yang kami tumpangi tiba-tiba saja rewel

Waktu tiga jam yang serasa tiga abad kini sudah berakhir. Akhirnya, kaki kami yang terjepit kaku bisa direntangkan dengan leluasa. Leganya sudah tiba di dermaga Ketapang. Pemandangan laut dan deretan pulau kecil sudah tampak jelas dari sini. Walaupun begitu, kegirangan kami sedikit memudar seketika melihat air laut yang masih jernih menjadi kurang menarik akibat kumpulan sampah yang melayang-layang.

Membuang sampah tidak pada tempatnya adalah isu krusial bangsa Indonesia

Membuang sampah tidak pada tempatnya adalah isu krusial bangsa Indonesia

Ada beberapa warung makan yang tersedia di sini, tapi kami hendak langsung menyeberang ke Pulau Pahawang demi mengejar waktu shalat Jum’at. Waktu yang diperlukan pun cukup singkat. Hanya dalam waktu dua puluh menit, kapal kami sudah merapat di dermaga Pulau Pahawang. Pulau yang akan menjadi tempat persinggahan kami dua hari ke depan.

Potret Pulau Pahawang dari kejauhan

Potret Pulau Pahawang dari kejauhan

Tumpukan sampah di dermaga Pulau Pahawang, tepat berada di belakang kantor balai desa

Tumpukan sampah di dermaga Pulau Pahawang, tepat berada di belakang kantor balai desa

Secara garis besar, pulau yang sedang kami kunjungi adalah Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian. Namun, di sekitar dua pulau tersebut, ada banyak spot snorkeling di perairan pulau-pulau kecil. Misal, di perairan Pulau Tanjung Putus, Pulau Pasir Timbul, Pulau Maitem, Pulau Gosong, dan lain sebagainya. Tapi, di kesempatan kala itu kami baru sempat berkunjung ke tiga tempat, yaitu Pulau Pahawang, Pulau Maitem, dan Pulau Kelagian.

Secara geografis, Pulau Pahawang dan Pulau Kelagian terletak di kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan. Pulau Pahawang sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Pulau Pahawang Besar dan Pulau Pahawang Kecil.  Sedangkan, desa yang menjadi tempat persinggahan kami berada di Pulau Pahawang Besar.

Hampir semua rumah di sana dijadikan penginapan oleh warganya. Potensi pariwisata Pulau Pahawang memang mempunyai peranan penting dalam membantu perekonomian masyarakat. Sedikit tips dari kami, berliburlah ke sana di hari libur keagamaan. Karena pada hari-hari tersebut, Pulau Pahawang cenderung sepi.

Masing-masing rumah dapat menampung sepuluh sampai dua belas orang. Di rumah inap kami, ada dua kamar tidur yang tersedia. Jika tidak cukup menampung semua anggota rombongan, para perempuan tidak perlu cemas. Karena seperti biasa para lelaki harus berkorban untuk tidur di luar. “Hahaha.”

Selain keterbatasan jumlah kamar tidur, kamar mandi yang tersedia di sini juga hanya ada satu buah. Tapi, kalian tidak perlu khawatir karena kita bisa meminjam kamar mandi tetangga sebelah jika dalam keadaan mendesak. Tidak perlu sungkan atau tak enak hati, karena masyarakat di sini ramah-ramah.

Berkunjung ke pulau terpencil berarti mempersiapkan mental untuk jauh dari peradaban. Susah mendapatkan sinyal telepon, misalnya. Bahkan, tak jarang nyaris tidak ada. Jadi, untuk mendapatkan sedikit sinyal, mau tidak mau kami harus pergi ke dermaga atau berjalan kaki beberapa meter dari rumah. Tak hanya minim sinyal, para wisatawan juga harus siaga membawa terminal listrik secukupnya. Maklum, listrik di sini hanya menyala pada pukul 18.00 sampai 05.00 WIB saja.

Makan bersama sebelum mengelilingi Pulau Pahawang

Makan bersama sebelum mengelilingi Pulau Pahawang

Siang itu, matahari bersinar terik. Sedang bergantung di titik puncaknya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat kami untuk segera mencicipi perairan Pahawang. Selesai makan siang, kami langsung beranjak menuju dermaga untuk berkeliling di sekitar Pahawang. Benar saja, kami sontak bersorak gembira melihat Pulau Pahawang dan sekitarnya. Lampung memang destinasi sempurna bagi yang sudah bosan melihat hutan beton. Selain suasananya yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota besar,keindahan alam di sini juga masih sangat terjaga.

Ber-snorkeling ria di spot pertama dekat Pulau Pahawang Besar

Ber-snorkeling ria di spot pertama dekat Pulau Pahawang Besar

Air laut yang masih jernih beserta keragaman ekosistem laut di dalamnya

Air laut yang masih jernih beserta keragaman ekosistem laut di dalamnya

Menjelajahi pulau-pulau di pedalaman terbukti selalu berhasil mengeluarkan sisi kekanak-kanakan para petualang. Tak terkecuali bagi kami berdua belas. Kami mungkin sudah berusia dua puluh tahunan, tapi berpetualang selalu berhasil membuat kami bertransformasi menjadi anak usia empat tahunan. Anak kecil yang bersorak kencang dan menyeburkan diri ke dalam lautan jernih. Berenang sesuka hati dan mengintip terumbu karang yang cantik. Lalu, mengejar sekumpulan ikan warna-warni berbagai macam rupa dan mendorong tubuh ke bawah dalam misi menemukan ikan Badut. Ya, Pulau Pahawang memang terkenal dengan habitatnya ikan Badut.

Puas menilik dunia bawah laut, lalu waktunya kami bersantai ria melayang di permukaan air sembari memejamkan mata. Menghirup udara segar dan membiarkan diri untuk sejenak memberikan lapisan kulit warna sawo. Tak ada yang perlu ditakutkan. Semuanya layak untuk sebuah cerita yang akan dikenang dan diceritakan kembali.

Berganti ke sebelah barat dari spot pertama, inilah terumbu karang yang terlihat jelas dari permukaan air laut

Berganti ke sebelah barat dari spot pertama, inilah terumbu karang yang terlihat jelas dari permukaan air laut

Berfoto sejenak dengan bintang laut sebelum dikembalikan lagi ke habitatnya

Berfoto sejenak dengan bintang laut sebelum dikembalikan lagi ke habitatnya

Misi menemukan ikan Badut sukses!

Misi menemukan ikan Badut sukses!

Ada cerita menarik di spot snorkeling pertama ini. Saya tak sengaja melihat anak ikan hiu paus berukuran setengah meter. Menurut penuturan Pak Arsali, pemilik rumah yang kami inapi sekaligus pengemudi kapal, beliau bersama orang desa lainnya pernah melihat ikan hiu paus dengan panjang sebesar kapal. Wow! Walaupun termasuk spesies hiu pemakan plankton, tapi tetap saja pasti kami akan ketakutan jika melihatnya secara langsung dalam ukuran besar.

Puas menceburkan diri di spot snorkeling kedua, Pak Arsali mengajak kami ke Pulau Maitem. Pulau tak berpenghuni ini terletak tidak juh dari dermaga Pulau Pahawang. Sama seperti spot sebelumnya, air laut di sekitar Pulau Maitem juga masih sangat jernih. Dasarnya yang dangkal mengharuskan kami untuk ekstra berhati-hati dalam berenang. Jika tidak, kaki bisa saja terluka akibat terkena terumbu karang.

Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Kini waktunya kami harus kembali ke penginapan dan beristirahat. Agenda snorkeling edisi pertama, selesai!

Terumbu karang yang terlihat jelas di spot Pulau Maitem

Terumbu karang yang terlihat jelas di spot Pulau Maitem

(April, 17th – 19th, 2014)

Advertisements

One comment on “Wisata Air Kristal di Pulau Pahawang dan Pulau Maitem (Part 1)

  1. Paket Wisata Dieng
    November 7, 2016

    lanjut part dua 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: